Subhanallah! 3600 Orang Setiap Tahunnya Masuk Islam Di PRANCIS!!

Juni 15, 2008 § Tinggalkan komentar

Asik2 browsing tentang berita islam terbaru. Eeehh nyasar ke situs nya www.alsofwah.or.id, ketemu berita yang gw anggep menarik banget nich bwat nambah wawasan kita 2 tentang berita2 islam terbaru di luar indonesia lagi. 😀
Ini berita nya :

Sebuah laporan mengejutkan datang dari PRANCIS tentang perkembangan Islam.! Laporan itu mengungkap, sekitar 3600 orang memeluk Islam setiap tahunnya. Laporan itu juga menyiratkan bahwa fenomena tersebut saat ini sudah menjadi buah bibir dan meraih perhatian besar sepanjang beberapa tahun terakhir.

Didier de Yeshi, penanggung jawab laporan pada kantor urusan agama di kementerian dalam negeri Prancis menjelaskan, setiap harinya tercatat ada puluhan kasus masuk Islam. Sekalipun laporan itu hanya menyinggung warga negara Prancis yang sudah dinaturalisasi saja, akan tetapi ia juga menegaskan bahwa lebih dari 60 ribu orang telah menyatakan masuk Islam sepanjang sepuluh tahun terakhir.

Dalam laporannya itu, Didier menyiratkan, bahwa setelah gelombang imigrasi yang beragam telah mengakibatkan perubahan profil dari sisi kemanusiaan dan etnik terhadap benua ini, kini datang pula giliran keyakinan-keyakinan agama yang mendapatkan jatah perubahan itu. Dan inilah yang saat ini terjadi di Prancis, salah satu negara Eropa terpenting dari sisi kepadatan penduduk di mana Islam selama dua dekade lalu telah menjadi agama terbesar kedua di negara itu, dan sekarang menjadi agama yang paling cepat penyebarannya.

Agen-agen intelijen telah menyampaikan sebuah laporan kepada presiden Prancis, Nicolas Sarkozy seputar hasil dan sebab yang menyebabkan banyak orang-orang Prancis melirik Islam. (almkhtsr/AS)

Itu berita yang telah gw kutip dari http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihatakhbar&id=763.
Wassalam

Iklan

Hikmah Shalat Tahajud

April 14, 2008 § 5 Komentar

Bisa atasi kanker !!!. Itu salah satunya hikmah shalat tahajjud.
Sebuah penelitian ilmiah membuktikan, shalat tahajjud membebaskan seseorang dari berbagai penyakit. Berbahagialah Anda yang rajin shalat tahajjud. Di satu sisi pundi-pundi pahala Anda kian bertambah, di sisi lain, Anda pun bisa memetik keuntungan jasmaniah. Insya Allah, Anda bakal terhindar dari pelbagai penyakit . Itu bukan ungkapan teoritis semata, melainkan sudah diuji dan dibuktikan melalui penelitian ilmiah. Penelitinya dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya, Mohammad Sholeh, dalam usahanya meraih gelar doktor. Sholeh melakukan penelitian terhadap para siswa SMU Lukmanul Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya yang secara rutin memang menunaikan shalat tahajjud.

Ketenangan
Shalat tahajjud yang dilakukan di penghujung malam yang sunyi, kata Sholeh, bisa mendatangkan Ketenangan. Sementara ketenangan itu sendiri terbukti mampu meningkatkan ketahanan tubuh imunologik, mengurangi resiko terkena penyakit jantung dan meningkatkan usia harapan hidup. Sebaliknya, bentuk-bentuk tekanan mental seperti Stres maupun Depresi membuat seseorang rentan terhadap berbagai penyakit, infeksi dan mempercepat perkembangan sel kanker serta meningkatkan metastasis (penyebaran sel kanker). Tekanan mental itu sendiri terjadi akibat gangguan irama sirkadian (siklus bioritmik manusia) yang ditandai dengan peningkatan Hormon Kortisol. Perlu diketahui, Hormon Kortisol ini biasa dipakai sebagai tolok ukur untuk mengetahui kondisi seseorang apakah jiwanya tengah terserang stres, depresi atau tidak. Untungnya, kata Sholeh, Stres Bisa Dikelola. Dan pengelolaan itu bisa dilakukan dengan cara edukatif atau dengan cara Teknis Relaksasi atau Perenungan/Tafakur dan umpan balik hayati (bio feed back). “Nah, shalat tahajjud mengandung aspek meditasi dan relaksasi sehingga dapat digunakan sebagai coping mechanism atau pereda stres yang akan meningkatkan ketahanan tubuh seseorang secara natural”, jelas Sholeh dalam disertasinya berjudul Pengaruh Shalat Tahajjud Terhadap Peningkatan Perubahan Respon Ketahanan Tubuh Imunologik.

Tahajjud harus secara Ikhlas & Kontinyu
Namun pada saat yang sama, shalat tahajjud pun Bisa Mendatangkan Stres, terutama bila Tidak Dilaksanakan Secara Ikhlas dan Kontinyu. “Jika tidak dilaksanakan dengan ikhlas, bakal terjadi kegagalan dalam menjaga homeostasis atau daya adaptasi terhadap perubahan pola irama pertumbuhan sel yang normal, tetapi jika dijalankan dengan ikhlas dan kontinyu akan sebaliknya”, katanya kepada Republika. Dengan begitu, keikhlasan dalam menjalankan shalat tahajjud menjadi sangat penting. Selama ini banyak kiai, dan intelektual berpendapat bahwa ikhlas adalah persoalan mental-psikis. Artinya, hanya Allah swt yang mengetahui dan mustahil dapat dibuktikan secara ilmiah. Namun lewat penelitiannya, Sholeh berpendapat lain. Ia yakin, secara medis, ikhlas yang dipandang sebagai sesuatu yang misteri itu bisa dibuktikan secara kuantitatif melalui indikator sekresi hormon kortisol. “Keikhlasan Anda dalam shalat tahajjud dapat dimonitor lewat irama sirkadian, terutama pada sekresi hormon kortisolnya”, kata pria yang meraih gelar doktor pada bidang psikoneoroimunologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini. Dijelaskan Sholeh, jika ada seseorang yang merasakan sakit setelah menjalankan shalat tahajjud, besar kemungkinan itu berkaitan dengan niat yang tidak ikhlas, sehingga gagal terhadap perubahan irama sirkadian tersebut. Gangguan adaptasi itu tercermin pada sekresi kortisol dalam serum darah yang seharusnya menurun pada malam hari. Apabila sekresi kortisol tetap tinggi, maka produksi respon imunologik akan menurun sehingga berakibat munculnya gangguan kesehatan pada tubuh seseorang. Sedangkan sekresi kortisol menurun, maka indikasinya adalah terjadinyaproduksi respon imunologik yang meningkat pada tubuh seseorang. Niat yang tidak ikhlas, kata Sholeh, akan menimbulkan Kekecewaan, Persepsi Negatif, dan Rasa Tertekan. Perasaan negatif dan tertekan itu menjadikan seseorang rentan terhadap serangan stres. Dalam kondisi stres yang berkepanjangan yang ditandai dengan tingginya sekresi kortisol, maka hormon kortisol itu akan bertindak sebagai imunosupresif yang menekan proliferasi limfosit yang akan mengakibatkan imunoglobulin tidak terinduksi. Karena imunoglobulin tidak terinduksi maka sistem daya tahan tubuh akan menurun sehingga rentan terkena infeksi dan kanker. Kanker, seperti diketahui, adalah pertumbuhan sel yang tidak normal. “Nah, kalau melaksanakan shalat tahajjud dengan ikhlas dan kontinyu akan dapat merangsang pertumbuhan sel secara normal sehingga membebaskan pengamal shalat tahajjud dari berbagai penyakit dan kanker (tumor ganas),” kata alumni Pesantren Lirboyo Kediri Jatim ini. Menurutnya, shalat tahajjud yang dijalankan dengan tepat, kontinyu, khusuk, dan ikhlas dapat menimbulkan persepsi dan motivasi positif sehingga menumbuhkan coping mechanism yang efektif. Sholeh menjelaskan, respon emosional yang positif atau coping mechanism dari pengaruh shalat tahajjud ini berjalan mengalir dalam tubuh dan diterima oleh batang otak. Setelah diformat dengan bahasa otak, kemudian ditrasmisikan ke salah satu bagian otak besar yakni Talamus. Kemudian, Talamus menghubungi Hipokampus (pusat memori yang vital untuk mengkoordinasikan segala hal yang diserap indera) untuk mensekresi GABA yang bertugas sebagai pengontrol respon emosi, dan menghambat Acetylcholine, serotonis dan neurotransmiter yang lain yang memproduksi sekresi kortisol. Selain itu, Talamus juga mengontak prefrontal kiri-kanan dengan mensekresi dopanin dan menghambat sekresi seretonin dan norepinefrin. Setelah terjadi kontak timbal balik antara Talamus-Hipokampus-Amigdala-Prefrontal kiri-kanan, maka Talamus mengontak ke Hipotalamus untuk mengendalikan sekresi kortisol.

Source : http://cepyharyadi.blogspot.com/2007/12/hikmah-shalat-tahajud.html

Khusyu’kah sholat kita?

April 11, 2008 § Tinggalkan komentar

Bismillahrirrahmanirrahim
Alhamdulillahirabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam.

Sahabat, marilah kita selalu menyempatkan sebagian malam, barang sejenak untuk mendekatklan diri (taqarrub) kepada Zat yang telah menciptakan kita. Untuk menghisab diri, apakah ibadah sholat yang kita lakukan sudah ikhlas dan pantas diharapkan pahalanya. Walaupun kita sehari semalam telah menghadap bersimpuh sujud sebanyak 5 kali, maka seberapa ikhlaskah shalat kita lakukan? Kadang kita pun terburu-buru dalam melakukan shalat, astaghfirullah, hingga kita pun tidak mampu meresapi nilai-nilai shalat. Kadang kita melakukan shalat hanya sebatas rutinitas belaka tanpa menyadari bahwa kita sedang menghadap kepada Sang Pencipta, astaghfirullah.

Sahabat, marilah kita ambil hikmah sebuah hikayat seorang salafusshalih (orang shalih zaman dulu) berikut:

Seorang ahli ibadah bernama Isam Bin Yusuf, sangat wara’ (hati-hati) dan khusyuk sholatnya. Namun, dia selalu khawatir kalau-kalau ibadahnya kurang khusyuk dan selalu bertanya kepada orang yang dianggapnya lebih ibadahnya, demi untuk memperbaiki dirinya yang selalu dirasainya kurang khusyuk. Pada suatu hari, Isam menghadiri majlis seorang abid bernama Hatim Al-Assam dan bertanya, “Wahai Aba Abdurrahman, bagaimanakah caranya tuan solat?”.

Hatim berkata, “Apabila masuk waktu solat, aku berwudhu zahir (lahir/nyata) dan batin.”

Isam bertanya, “Bagaimana wudhu zahir dan batin itu?”

Hatim berkata, “Wudhu zahir sebagaimana biasa yaitu membasuh semua anggota wudhu dengan air”. Sementara wudhu batin ialah membasuh anggota dengan tujuh perkara :

1. Bertaubat
2. Menyesali dosa yang telah dilakukan
3. Tidak tergila-gilakan dunia
4. Tidak mencari/mengharap pujian orang (riya’)
5. Tinggalkan sifat berbangga
6. Tinggalkan sifat khianat dan menipu
7. Meninggalkan sifat dengki.”

Seterusnya Hatim berkata, “Kemudian aku pergi ke masjid, aku kemaskan semua anggotaku dan menghadap kiblat. Aku berdiri dengan penuh kewaspadaan dan aku rasakan aku sedang berhadapan dengan Allah, Syurga di sebelah kananku, Neraka di sebelah kiriku, Malaikat Maut berada di belakangku, dan aku bayangkan pula aku seolah-olah berdiri di atas titian ‘Siratal mustaqim’ dan menganggap bahwa solatku kali ini adalah solat terakhir bagiku, kemudian aku berniat dan bertakbir dengan baik.” « Read the rest of this entry »

Sujud Syahwi

Februari 19, 2008 § Tinggalkan komentar

Pernahkan kita terlupa berada di rakaat keberapa saat mengerjakan shalat? Atau pernahkah kita terlupa tidak melakukan rukuk? Masih banyak hal-hal lain yang mungkin terlupa sehingga kita tidak melakukan gerakan shalat dengan baik.

Nabi SAW pun pernah lupa ketika shalat. Hal ini berdasarkan sebuah keterangan hadits bahkan beliau bersabda,
”Saya adalah manusia biasa. Saya juga lupa sebagaimana kalian juga bisa lupa. Oleh karena itu, jika saya lupa, maka tolongan diperingatkan.”

Saat terlupa, Allah SWT telah memberikan kemudahkan dengan adanya sujud sahwi. Dalam mengerjakannya, ada beberapa hukuman yang harus kita ketahui.

Cara Mengerjakan

Sujud sahwi dilakukan dengan dua kali sujud sebelum salam atau sesudahnya oleh seseorang yang sedang mengerjakan shalat.

”Jika salah seorang diantaramu ragu dalam shalatnya, hingga tidak tahu berapa rakaatkah yang sudah dikerjakan-, apakah tiga atau empat rakaat, maka ia harus menghilangkan keraguan tersebut dan menetapkan mana yang lebih diyakini. Setelah itu, hendaklah dia sujud sebanyak dua kali sebelum salam.” (Hadits shahih dari Sa’id al-Khudri)

Yang lebih afdhal dalam melakukan sujud sahwi adalah mengikuti sebab yang mengharuskan sujud sahwi tersebut. Jika keragu-raguan datang sebelum salam, hendaklah sujud dilakukan sebelum salam. Dan jika keraguan itu datang sesudah salam, hendaklah ia melakukan sujud sesudah salam. Sedangkan hal-hal yang tidak termasuk dalam kedua keadaan di atas, maka seseorang boleh memilih pelaksanaan sujud sahwi, baik sesudah salam maupun sebelumnya.

Doa sujud sahwi:

Subhaa na manlaa yanaa muwalaa yas hu
”Maha Suci Allah yang tidak tidur dan tidak lupa”

Hal-hal Yang Mengharuskan Dilakukannya Sujud Sahwi

Sujud sahwi diperintahkan untuk dikerjakan dalam keadaan-keadaan berikut :

1. Apabila memberi salam sebelum sempurna shalat.
2. Jika seseorang mengerjakan shalat dan jumlah rakaatnya melebihi jumlah yang semestinya.
3. Lupa bertasyahhud awal atau lupa mengerjakan salah satu di antara sunnah-sunnah shalat.
Rasulullah SAW bersabda, ;Apabila salah seorang diantara engkau langsung berdiri dari dua rakaat dan berdirinya itu belum sempurna, maka hendaklah ia duduk kembali. Tetapi jika telah sempurna berdiri, maka jangalah duduk dan hendaklah ia sujud sahwi sebanyak dua kali.”(H.R. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu maajah dari Mughirah bin Syu’bah)
4. Ketika mengalami keraguan dalam shalat. Apabila seseorang merasa ragu dengan jum;ah rakaat yang telah dikerjakannya, maka hendaklah ia menetapkan jumlah yang lebih sedikit yang diyakini. Setelah itu, hendaklah ia melakukan sujud sahwi.

Halaman nie aq post coz aq ga afal sama bacaan doa sujud syahwi. hehehehe :D. Jadi klo aq lupa aq biasanya baca arti nya aza!!

Sumber : Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah

Sepuluh Kriteria Aliran Sesat (Fatwa MUI)

Februari 19, 2008 § 3 Komentar

Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan 10 kriteria aliran sesat. Apabila ada satu ajaran yang terindikasi punya salah satu dari kesepuluh kriterai itu, bisa dijadikan dasar untuk masuk ke dalam kelompok aliran sesat, yaitu :

– Mengingkari rukun iman dan rukun Islam
– Meyakini dan atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dalil syar`i (Alquran dan as-sunah),
– Meyakini turunnya wahyu setelah Alquran
– Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Alquran
– Melakukan penafsiran Alquran yang tidak berdasarkan kaidah tafsir
– Mengingkari kedudukan hadis Nabi sebagai sumber ajaran Islam
– Melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul
– Mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir
– Mengubah pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariah
– Mengkafirkan sesama Muslim tanpa dalil syar’i

Namun perlu dicatat beberapa hal yang benar-benar harus diperhatikan;
Jangan mudah memvonis suatu ajaran sesat, akan tetapi jika terindikasi memiliki salah satu dari ciri-ciri yang tersebut di atas, maka ada baiknya dilakukan proses tabayyun, kroscek, dan segera laporkan kepada pihak yang berwenang, semisal MUI atau Ormas/Orpol Islam terdekat.
Jika terbukti suatu ajaran itu sesat, jangan main hakim sendiri. Islam tidak pernah mengajarkan untuk menggunakan kekerasan dalam hal seperti ini, melainkan melalui jalur diskusi dan dialog. Kalaupun dibutuhkan tindakan tegas, maka wewenang itu berada pada pihak yang berwajib, dalam hal ini MUI, Kepolisian, Kejaksaan, dan tentu saja Pemerintah Daerah / Pusat.

Yang terakhir, seperti pesan bang Napi*;

Aliran sesat tidak hanya berkembang karena ada niat dari para penyebarnya (atau aktor di belakang layarnya), tetapi juga karena adanya kesempatan (baca: kelengahan umat Islam).

Waspadalah! Waspadalah! Waspadalah!!

Where Am I?

You are currently browsing the Islami category at blognya ianjuve.